Rabu, 11 November 2015

“jreng jreng” , suara gitar yang dimainkan oleh dua anak muda didalam sebuah bis. Dua anak muda yang berprofesi sebagai musisi jalanan. Hidup dalam dunia yang keras tanpa siapapun yang mereka punya, hanya hidup berdua dari kecil yang membuat mereka menjadi anak yang keras dan tergolong kepada anak yang nakal. Andri dan Dovi, ya, itu adalah nama mereka. Kehidupan di jalanan adalah pilihan yang harus mereka tempuh.
Tak ada kata putus asa dalam benak kedua anak yang masih berusia belasan tahun itu. Bagi mereka impian mereka yang akan menyelamatkan mereka dari kehidupan yang kejam ini. Walaupun sering dihina oleh orang-orang, mereka yang berteman sejak kecil itu selalu berusaha tetap tegar menghadapi itu semua. Ada juga waktunya bagi mereka untuk menyerah, tapi jika mereka melakukan itu, mereka tak akan bisa menikmati indahnya dunia ini.
Pagi sampai malam selalu mereka ada di dalam bis, terminal untuk mencari uang. Bisa disebut juga itu adalah rumah bagi mereka. Pada saat mereka berjalan di depan sebuah halte, ada anak gadis yang cantik yang membuat dovi menyukainya. Anak itu sedang menunggu bis di halte bersama teman-teman sebayanya yang memakai seragam SMA. Dovi ingin sekali mendekatinya, ingin berkenalan dengan dia, tapi dia dan teman-temannya naik bis yang baru saja sampai.
Sogek yang ingin sekali berkenalan dengan anak tadi mengajak andri untuk naik bis juga. Sedangkan andri ingin ke toilet, tapi dovi menarik tangan andri dan langsung masuk kedalam bis. Dovi langsung saja memberikan salam kepada penumpang bis dan bernyanyi. Sedangkan andri yang dari tadi ingin ke toilet memainkan gitar sambil menekankan gitarnya ke perutnya. Dalam nyanyian ini dovi mencoba menyanyikan sebuah lagu yang romantis sambil memandangi gadis yang dia suka tadi.
Setelah sampai halte berikutnya gadis cantik dan teman-temannya tadi turun, dan kedua anak itu juga ikut turun. Bedanya, dovi langsung mengejar anak gadis tersebut sedangkan andri langsung berlari menujun toilet yang berada sekitar 50 meter dari halte tersebut.
“ Hai ” kata dovi yang mendekati gadis tersebut.
“ Iya, ada apa ? “ jawab gadis itu.
“ Boleh kenalan gak ? nama kamu siapa ? aku dovi “ kata dovi lagi.
“ Namaku Della “ jawab gadis tadi dengan senyuman yang sangat manis.
“ ee, aku pulang dulu ya, karena sudah sore “ lanjut della.
“ Iya deh hati-hati ya, oiya kamu mau jadi teman aku gak ? “ kata dovi.
“ Iya, pulang dulu ya “ jawab della.
Dovi sangat senang sekali karena bisa kenalan sama gadis yang dia suka tadi. Sedangkan andri selesai dari toilet, dia langsung menghampiri dovi yang sedang senyum-senyum sendiri. Dengan wajah yang bingung andri bilang “ lu kenape dop ? “. “ Gak, gue gak papa, yok buruan pulang “ jawab dovi. Dengan wajah yang masih penasaran kepada dovi, andri lalu mengikuti dovi yang sudah jalan duluan sambil senyum-senyum sendiri.
“ Lama-lama gue takut juga sama ini bocah, atau dia kemasukan jun ya ? “ kata andri dalam hati sambil lihatin dovi yang tetap senyum-senyum sendiri itu. Sampainya di tempat tinggal mereka, mereka tinggal dirumah yang sudah tidak dihuni oleh pemiliknya.
Keesokan harinya dovi semangat sekali untuk kembali melakukan aktifitasnya. Berdua mereka kembali kerutinitas mereka sebagai musisi jalanan. Pada siang hari, dovi melihat della yang bersama teman-temanya di pinggir subuah taman. Dovi mengajak andri untuk menemaninya menemui della, tapi dovi menghentikan langkahnya karena melihat della yang sedang duduk dengan seorang cowok. Lalu dovi langsung balik badan dan kemudian pergi dari tempat tersebut.
Perubahan drastis pada dovi, yang semula ceria sekarang jadi suka diam dan sendiri, juga tak ada semangat seperti biasanya. Keesokkan harinya dovi bertemu dengan cowok yang duduk bareng della kemaren di halte yang mempertemukan dovi dengan della waktu itu. Dovi memukul anak itu yang diketahui namanya adalah arif. Saat teman-temannya arif datang, mereka langsung ganti memukuli dovi. Andri yang dari pagi tidak bersama dovi menemukan dovi yang sedang dikeroyok oleh teman-temannya arif.
Dan teman-temannya arif lari semua, dan arif masih di tempat. Andri langsung memukul arif yang dari tadi diam saja. Arif yang dari tadi diam mulai bicara dan menjelaskan semuanya. Dengan dingin arif bisa membuat andri tenang dan tidak lagi memukulnya lagi. Sedangkan dovi yang masih tergeletak di tanah. Andri mencoba mengerti dengan situasi itu. Dan andri menyuruh arif untuk cepat pergi dari tempat itu. Kemudian andri mengajak dovi untuk kembali ke rumah.
Keseharian yang berubah setelah kejadian waktu itu. Dovi selalu termenung sendiri, juga menjadi tidak bersemangat seperti biasanya. Dalam beberapa minggu kemudian masih tetap sama keadaannya. Sampai pada suatu waktu andri dan dovi jalan di dekat terminal, mereka melihat arif yang sedang di keroyok oleh 4 preman. Mereka berdua lari menuju kearah arif yang sedang dikeroyok itu, dan andri langsung melayangkan tendangannya kea rah wajah dari salah satu preman tersebut. Sedangkan dovi juga melayangkan pukulannya kepada preman tersebut. Terjadilah perkelahian antara andri dan dovi dengan 4 preman tersebut.
Setelah berhasil menngusir ke4 preman tersebut, andri dan dovi langsung meninggalkan arif yang berada di belakang mereka. Arifpun bingung kenapa mereka menolongnya, padahal mereka sangat membencinya. Tapi dia juga bersyukur karena mereka menolongnya dari para preman tadi. Arif mencoba mengejar dua anak itu. Setelah dia bisa mengejar mereka, arif mulai menjelaskan semuanya, kalau della itu adalah teman sekelasnya yang sekaligus teman kecilnya.
Dovi yang masih belum percaya tentang itu langsung pergi meninggalkan andri dan arif. Arif mencoba menjelaskan kepada andri tentang saat teman-temannya memukuli dovi. Dalam sedikit pemikiran, andri mencoba mengerti apa yang dijelakan oleh arif. Setelah selesai menjelaskan semuanya arif pergi menuju terminal kembali karena dia ingin pulang.
Dalam perjalan pulang, andri terlihat bimbang, dia bingung harus percaya kepada dovi atau arif yang baru dikenalnya. Karena dovi adalah temannya sejak kecil dan perkataan arif terlihat tidak mengada-ada, sekaligus arif terlihat baik. Dalam perjalanan pulang hanya itu yang dipikirkan oleh andri. Sampainya dirumah dia mencoba bertanya kepada dovi tentang hal yang sebenarnya, dan ternyata yang dikatakan oleh arif itu benar. Andri terlihat menyesal telah memukuli arif waktu itu.
Keesokan harinya andri mencari arif untuk meminta maaf tentang kejadian waktu itu. Andri dan dovi juga sudah tidak mengamen lagi sejak dovi menjadi pemurung. Saat di depan sekolah SMA 5, andri melihat arif bersama teman-temannya yang baru keluar dari kawasan sekolah. Andri langsung menumui mereka untuk meminta maaf tentang kejadian kemarin di taman yang melibatkan dia, dovi, dan juga teman-teman arif.
Setelah itu selesai, arif mengajak temannya toni dan dedi kerumah andri untuk menemui dovi sekaligus juga untuk minta maaf. Sampainya dirumah mereka saling minta maaf satu sama lain dan juga menyelesaikan masalah yang membuat mereka bermusuhan. Dalam pemikiran yang dingin akhirnya masalah itu selesai juga dan tidak ada permusuhan diantara meraka, malahan semenjak saat itu mereka menjadi teman yang sangat akrab.
Sepulang dari sekolah arif, toni, dan dedi selalu main ke rumah andri dan dovi. Tak jarang mereka juga menginap dirumah andri dan dovi itu. setelah cukup lama mereka berteman, mereka semakin akrab dan semakin kompak.
Sewaktu di sekolah
Toni : “ bro, bagaimana kalau mulai sekarang kita tinggal dirumah andri dan dovi saja ? ”
Dedi : “ emm, boleh juga, biar kita juga bisa mandiri dan tentu saja biar makin kompak “
Arif : “ boleh juga ide kamu ton ! “
Dedi : “ lalu mulai kapan ? “
Arif : “ mulai sekarang ded -_- “
Dedi : “ maksud gue, mulai dari hari ini atau besok atau lusa rif ! -_- “
Toni : “ widih, kamu sekarang pakai kata-kata loe gue ded ! haha “
Arif : “ iya, bener itu ton. Haha, enaknya kapan nih ton ? “
Toni : “ gimana kalau besok saja, hari ini kita minta ijin dulu sama ortu, trus siap-siap juga, dan yang pasti                               minta ijin kepada andri dan dovi “
Dedi : “ haha, biar seperti anak abg jaman sekarang, eh  tapi kalau menurut gue pasti andri dan dovi                        mengijinkan kok “
Arif : “ iya, tapi gak ada salahnyakan kalau kita minta ijin terlebih dahulu, biar lebih sopan “
Dedi, Toni : “ sok sopan loe, hahaha “
Arif : “haha daripada loe berdua wle “
Dedi : “ idih sekarang pakai loe gue haha ”
Kriiiiing….. ( bunyi bel masuk sekolah)
Toni : “ haha sudah sudah, ayo kita masuk, sudah bunyi itu belnya “
Sepulang sekolah mereka bertiga langsung kerumah andri dan dovi.
Toni : “ assalamu’alaikum bro ! “
Dovi : “ wa’alaikumsalam, wee kalian rupanya, masuk bro! “
Dedi : “ siap bro, permisi “
Dovi : “ halah, laga-lagaan loe ded, kan gue sudah bilang ke kalian, anggap saja ini rumah kalian sendiri “
Toni : “ haha, itu yang ingin kita bicarakan dov “
Dovi : “ tentang apa ? ayo didalam saja ! “
Toni : “ begini dov, kita kesini mau minta ijin ke loe dan andri kalau kita mau tinggal disini “
Dovi : “ tinggal disini ? “
Arif : “ iya, kita mau tinggal disini, dan kita juga mau belajar mandiri, dan kita juga bisa bareng-bareng terus, boleh kan ? “
Dovi : “ serius ?, tentu bolehlah, malahan gue jadi seneng banget, mulainya kapan ? “
Dedi : “ iya, niatnya mulai besok saja, soalnya kita kan harus minta ijin ke orang tua kita juga kan ?, emm andri kemana ? “
Dovi : “ oh andri, dia lagi keluar, katanya mau lihat-lihat kerjaan yang ada dijalan “
Arif : “ maksudnya ? “
Dovi : “ aku juga gak tahu, nanti kalau dia udah pulang tanya saja sama dia aja “
Toni : “ okelah kalau begitu dov, kita pulang dulu ya, kita mau siapin semuanya buat tinggal disini “
Dovi : “ oke bro, hati-hati dijalan ya “
Arif, dedi dan toni pulang kerumah mereka masing-masing. Sampainya mereka dirumah langsung minta ijin ke ortu mereka. Sebenarnya mereka tidak diijinkan, tapi dengan sedikit alasan akhirnya mereka diijinkan.
Keesokan harinya, setelah mereka pulang sekolah, mereka langsung pulang kerumah mereka masing-masing untuk mengambil barang-barang mereka dan langsung pergi kerumah andri dan dovi. Dedi lebih dulu sampai dirumah andri dan dovi dan dia langsung mengetuk pintu.
Tok tok tok …
Dedi : “assalamu’alaikum. Broo !“
Dovi : “wa’alaikumsalam. Iya sebentar. O elu ded, masuk masuk ! yang lain mana ?”
Dedi : “belum sampai dov !”
Dovi : “iye, gue juga udah tau kalau belum datang ! -_-“
Dedi : “haha, bantuin gue bawa masuk ini barang-barang gue yak !”
Dovi : “angkat deh”
Memang rumahnya tidak besar tapi cukup membuat mereka nyaman, apalagi bisa bareng-bareng sama teman dan akan membuat mereka semakin kompak lagi. Tak lama kemudian arif dan toni datang.
Arif : “assalamu’alaikum”
Dovi : “wa’alaikumsalam, masuk bro”
Merekapun masuk kedalam sambil membawa banyak barang juga.
Toni : “emm, andri mana ?”
Dovi : “hemm, gak usah tanya lagi, ya sudah jelas dia masih tidur”
Arif : “ha ! tidur ? jam berapa ini ? masih tidur aja ?”
Dedi : “halah, kaya gak tau andri aja lu rif, hahaha”

Semua tertawa dengan enjoy. Tanpa ada rasa tak enak yang mereka rasakan. Dan yang pastinya mereka bertiga juga harus siap menghadapi kehidupan mereka sendiri tanpa ada orang tua disisi mereka untuk saat ini. Belajar untuk menggapai impian bersama. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar